Cerita China
Masih tak percaya aku telah menginjakkan kaki di China. Negara yang tidak pernah ada dalam bayangan dan keinginan untuk dikunjungi. Selain karena review beberapa travel blogger yang mengatakan kalo pergi ke China itu susah bahasanya juga kotor toiletnya, China bagiku juga hal biasa yang bisa dengan mudah kutemui di Jogja. Ada Kampung Ketandan, kalo imlek barongsai dan lampion di mana-mana, film China juga gampang kutonton disini, orang China juga banyak di Jogja. Banyak negara juga punya China Town. Karena saking common nya China, penasaran ku gak gede-gede amat sama negara ini. Tapi kusuka bahasa Mandarin. Sejak SMA belajar basicnya, dan masih tertarik sampe sekarang. Kaligrafi juga pernah belajar dulu. Intinya, China bukanlah hal baru yang mendewa-dewa di pikiranku.
But, something happen for at least a reason. Tsinghua University memberiku beasiswa untuk mengikuti summer school di Beijing. Senang pasti. Tapi aku tidak berekspektasi apapun, terlebih karena review para penjelajah. Memang, menghadapi sesuatu tanpa ekspektasi berlebihan itu membuat hati lebih legowo. Pintaku hanya satu sebelum berangkat ke China: semoga perjalanan ini diberkahi Allah. Perjalanan mencari ilmu itu jika diniatkan pahalanya sangatlah besar, impas dengan surga. Dengan catatan, jika diniatkan. Dimanapun itu belajarnya, mau di rumah, kampus, tetangga, ataupun China akan menambah catatan amal sang pencari ilmu. Maka, harus totalitas niatan ke China ini.
Allah sungguh baik dengan mengabulkan doa safarku. Kupinta untuk dipertemukan dengan hal-hal baik dan orang-orang baik, jawabannya persis begitu. Tidak ada orang jahat selama perjalananku, yang ada orang baik yang ramah, sopan, dan penolong. Kupinta untuk mengunjungi peradaban para muslim di China, Allah sampaikan kaki ini untuk mengunjungi setidaknya 1 masjid di Beijing, dan 4 masjid di Xi’an plus area Muslim berkumpul yang disebut Muslim Quarter. Kupinta untuk mengizinkanku bersujud di bumi China, Allah mudahkan dengan jadwal kuliah disana yang ramah waktu sholat. Walau, di kampus memang tidak diizinkan untuk melakukan ibadah dan mengajak orang lain untuk beribadah, aku masih bisa sholat di kamar. Kupinta untuk menjauhkanku dari makanan haram, Allah tunjukkan satu-satunya kantin di Tsinghua yang menjual makanan halal. Halal dan jauh lebih murah dibanding kantin lainnya. Hellow, kampus di negeri komunis punya kantin halal? MashaAllah. Di supermarket kampus pun dijual susu, es krim, sosis, mie instan yang semuanya berlogo halal. Serta masih banyak lagi doa-doa yang dikabulkan yang tidak bisa kushare di sini. Intinya, betul kata orang-orang Shalih, doa Safar itu makbul.
Saat packing sebelum berangkat, aku cuma ngakak, barang yang kumasukkan ke koper lihat saja, mostly ‘made in China’. Jadi, semacam aku akan membawa barang-barang ini pulang kampung. Begitu sampai di Beijing kumengerti dan benarlah negeri ini memang super power. Selama ini mungkin banyak yang menegatifkan negeri China. Pekerja China dilarang masuk Indonesia lah, barang dari China mutunya lebih jelek lah, China kotorlah, de el el. Ternyata datang ke tempatnya langsung, membuat diri lebih bijak dalam menanggapi. Beijing itu (karena berkunjungnya Cuma ke Beijing dan Xi’an) bersih loh, rapi pula. Memang polusi, langitnya kelabu. Beijing itu sungguh maju, pendapatannya menyamai pendapatan sebuah negara, padahal ini kota aja. Beijing juga aman, ngesubway mpe jam 11 malam masih aman, orangnya gak ikut campur urusan orang, semi individualis tapi aku oke-oke aja. Beijing sungguh cashless. Orang bayar tiket, bayar makan, pinjam sepeda pake wechat. Kulangsung membayangkan aplikasi macam Whatsapp trus bisa bayar-bayar. Betul saja, orang China hampir gak bawa duit kemana-mana. Mereka cuma bawa HP, beli kacang di pinggir jalan tinggal nge-scan barcode yang tersedia lalu sudah terbayar. Ada banyak sepeda umum di mana-mana. Kalo mau pake tinggal scan ntu sepeda, langsung bisa dipake. Naik bus juga tinggal scan di HP buat bayar. Intinya Beijing itu maju dan penuh orang. Aku baru betulan merasakan kalo benarlah China adalah negara berpenduduk terbesar di dunia. Dimana-mana penuh orang, kecuali saat kami sekelas ke gunung. Hebatnya mereka olahraga setiap hari. Jalan kaki dan sepeda jadi pemandangan umum di jalan-jalan. Hampir tidak kutemukan orang gemuk disana. Hanya saja, walau mungkin jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, toilet China tetaplah kering bin bau. Tahan, tahan.



Komentar
Posting Komentar