Xi'an! (Backpacker in China)


“Where do you come from?” tanya seorang gadis cilik chinese berumur sekitar 5 tahun dalam suatu gerbong kereta kepadaku. “Indonesia”, jawabku dengan sangat pelan sambil mengeja biar mudah didengar. Si gadis cilik tampak tak paham kemudian dia bergumam dalam bahasa mandarin. Ditanya kembali pertanyaan yang sama kepadaku setelah beberapa menit. Tetap tak paham dia, lalu muncullah pertanyaan lanjutan “America, British, Canada?”. Mungkin si adek mengira selain China, dunia ini adalah Amerika, Inggris, dan Kanada, serta Indonesia terletak di salah satu dari negara tersebut. Ah lucunya kau dek membuat perjalanan keretaku gak spaneng lagi setelah gak bisa ngobrol sama si bapak di depan dan sampingku karena kendala bahasa.

Naik kereta jarak jauh kelas ekonomi di China itu sungguh ajaib. Di gerbongku cuma ada dua orang asing, itu aku dan ditha. Pun ditha duduk terpisah di seberang belakangku. Kami sama-sama ‘terpojok’ dipepet karena dapet window seat. Di lorong gerbong banyak orang berdiri. Tiket berdiri masih dijual di kereta jarak jauh ini seharga sama dengan tiket duduk yaitu 148.5 yuan ato sekitar 300an ribu rupiah (kurs 2225 rupiah). Keretanya seperti ekonominya Indonesia, duduk saling menghadap tapi sandaran lebih empuk dan miring menyesuaiakan punggung, serta ada meja agak lebar di tengah. Kereta juga nyediain air panas gratis sehingga tak heran banyak banget yang bawa bekal mie instan macam popmie dalam ukuran jumbo buat diseduh di kereta. Ini adalah kereta Beijing-Xi’an termurah yang bisa kudapat. Selain gerbong hard seat tempatku duduk, ada gerbong hard sleeper yang lumayan bisa buat berbaring, tapi harga dua kali lipat. Kereta lain ada juga yang lebih cepat dan nyaman, 4 jam bisa sampe Xi’an tapi 1-2jutaan, macam shinkansennya Jepang.

13 jam-an waktu yang dibutuhkan  kereta T231 sampe ke stasiun Xi’an dari stasiun Beijing-West. Jam 18.50 jadwal keberangkatan kereta ini. Jam 18 orang-orang udah pada berdiri ngantri ke gate, heran pada betah berdiri lama. Jadi, stasiunnya kayak bandara, ada waiting room dan gate-gate tempat nunjukin tiket dan menuju peron. Sebelum masuk kereta, ada lagi petugas yang ngecek tiket dan paspor, multiple check. Penuhnya stasiun kayak Indonesia kalo orang-orangnya pada mudik. Penumpang berbondong-bondong bawa koper dkk plus bawa bekal makan dalam kantong plastik transparan. Sempat membatin “emang bakal abis itu mereka bawa makanan sebanyak itu”. faktanya, selama  perjalanan orang China emang aktif mengunyah dan porsi makannya banyak, hehe. Beda sama kalo naek kereta di negeri kita, pada rela nahan laper dan malu-malu kalo makan ato pilih beli makan di kereta.
Kereta ekonomi yang kunaiki
Aku sempat dikasih neneknya si gadis cilik tadi beberapa biji anggur. Ramah banget beliau senyum terus pula, padahal ya duduk kami saling membelakangi. Bapak sampingku ngajak ngobrol juga, keluarlah jurusku “wo bu zhi dao” yang artinya gak paham saya pak apa yang bapak sampaikan sambil kumeringis. Tapi emang kebanyakan mereka kalo aku dah bungkam tetep aja ditanya pake mandarin. Sampai aku sedikit memahami arah pembicaraan dan bilanglah kalo aku dari Indonesia. Lalu semua yang di depan, samping sampe yang berdiri pun memperhatikan aku sambil manggut-manggut. Mbak-mbak di samping depan sampe menyodorkan hapenya suruh aku ngomong pake aplikasi translatornya. Apa yang kualami di kereta ini membuatku menyimpulkan kalo mereka orang-orang lokal yang ramah. Waktu ambil air panas di ujung gerbong juga semua mata tertuju pada alien berjilbab ini. Sebenarnya sejak di Beijing pun sering banget liat orang ngeliatin aku dari ujung kaki sampe kepala dengan pandangan penasaran.

Let’s go to Xi’an. Kenapa sih ke Xi’an?. Ceritanya habis selese acara summer school di Beijing ingin extend beberapa hari. Langsung kepikiran Xi’an karena katanya kota ini adalah tempat lahirnya peradaban China yang lebih tua dari Beijing maupun Shanghai. Selain itu banyak komunitas muslim di kota ini dan tentunya masjidnya banyak. Awal rencananya dari Xi’an langsung balik Jakarta tapi gak dapet tiket yang lebih murah. Sempet kepikiran juga apa dari Xi’an naek kereta ke Guangzhou aja ya, tiket pesawat dari Guangzhou lebih murah. Tapi gak jadi karena bisa makan waktu puluhan jam, padahal seru keknya ya membelah China dari utara ke selatan. Jadilah dari Xi’an balik ke Beijing lagi demi kantong.
dari Beijing ke Xi'an

Kesan pertama sampe stasiun Xi’an adalah stasiun ini gak terlalu bersih, tua, dan kecil, tapi manusianya banyak. Lebih bagus lempuyangan, asli. Tapi begitu keluar stasiun, asiknya mulai dapet. Jalanan lebar, bus banyak, hijau pepohonan di depan gedung-gedung tinggi mamanjakan mata. Ditha pesen didi buat ke hostel. Didi itu kayak grab uber dan bayar pake CC dan tarifnya lumayan murah dibanding taxi biasa. Karena jaraknya dekat kami berani pake didi karena terjangkau, kalau jauh ya mending bus. Sepanjang jalan ke penginepan yang nampak adalah kota yang rapi dan hijau, lebih sejuk dan sepi dibanding Beijing, juga banyak bus bersliweran. Karena saking macetnya kami diturunkan tak jauh dari hostel. Kunginep di kawasan turis, tepatnya di area muslim quarter yang jalannya kecil cukup buat lewat 1 mobil, yang macet sih cuma ini aja, jalan utama tetep lengang. Lokasinya di deket drum tower dan bell tower di dalam Xi’an Wall. Mirip Jogja, kota Xi’an dikelilingi benteng tebal yang masih utuh yang konon dulu dibuat untuk pertahanan.  

Singkat cerita, hostel bernama Alley Youth Hostel (permalam 80ribu untuk kamar dormitory 4 bunk bed) baru bisa nyedian kamar pukul 14 dan sambil menunggu waktu itu, kami jalan-jalan ke masjid terdekat. Ternyata banyak masjid di sekitar situ yang cukup ditempuh jalan kaki. Tipikal masjid di sana ya ada gazebo dulu setelah pintu masuk, lalu taman-taman, ruang wudhu di samping taman, baru deh sampai ke hall utama ruang sholat. Semuanya khas arsitektur China. Pernah baca kalo ada masjid di luar Xi’an sana yang harus ditutup karena tidak bergaya China, tapi kayak masjid pada umumnya yang punya kubah dkk, sedihnya. Nah karena wisata turis, masjid-masjid ini banyak dikunjungi turis non muslim. Mereka diizinkan masuk kecuali di tempat sholat. Jadi, selama di Xi’an kami berkunjung ke 4 masjid, yaitu masjid Dapiyuan mosque, the great mosque (masjid gedenya Xi’an), Ancient Mosque (Xicang West Alley), Xi’an Daxuexi Alley Mosque. Alhamdulillah.
Menara di the great mosque
Pintu masuk masjid Dapiyuan
Selaen mengunjungi masjid, semacam wajib untuk dikunjungi adalah ke Xi’an Wall. Cakep banget view dari wall nya, semacam perpaduan antara China kuno dan modern yang ditunjukkan dengan gedung-gedung tinggi nan modern di kanan kiri wall. Walau bukan high season, tetep aja banyak turis jalan muterin wall, kebanyakan turis lokal yang kemungkinan dari luar daerah. Betah banget orang China itu jalan kaki jauh, pantes kakinya ramping-ramping dan berotot, serta badannya bagus. Bisa juga muterin wall ini dengan nyewa sepeda, tapi aduhai mahal sekali bisa ratusan ribu rupiah harganya. Muter-muter Xi’an pake bus juga wajib. Minimal bayar 1 yuan, dan rata-rata 2 yuan udah bisa ngelilingi kota ini dengan bus yang bersih dan banyak. Yang enak banget lagi adalah makanan di street food muslim quarter yang halal semua. Ada sate sapi dan gurita yang gede-gede, yogurt khas, kue macam pukis tapi dari ketan, kentang bumbu rebus, dan macem-macem yang menggoda dan tak kutau namanya.  Tapi eh tapi, kendala selama di Xi’an yaitu makanan. Gak cocok di lidah makanan di sana. keliatan enak tapi gak doyan, misalnya mie rebus campur babat. Alhasil kami beburu mie instan halal yang dibeli di berbagai minimarket.
Xi'an Wall

Di Xi’an pulalah kami bertemu Halimah, muslimah Xinjiang yang lagi libur kuliah keperawatan di Beijing. Halimah berjilbab layaknya jilbab muslimah China pada umumnya. Dia lah satu-satunya muslimah muda yang kutemui selama di China. Lainnya ya muslimah yang udah sepuh. Halimah nganter kami sholat ke tempat sholat wanita di kompleks masjid Daxuexi (gak sekomplek juga sih, terpisah gang. Di sini ada bebrapa masjid yang tempat sholat wanitanya jauh terpisah beda gedung, bahkan komplek dengan ruang sholat pria). Disitulah dia cerita kalo dia asalnya dari Xinjiang, sebuah provinsi di pojok barat laut China. Banyak China muslim berasal dari daerah itu yang disebut muslim ughyur. Sekarang, katanya, muslimah di sana dilarang pake jilbab (kalo di luar Xinjiang masih boleh), yang boleh pake cuma wanita 40 tahun ke atas, itupun harus memperlihatkan leher. Si Halimah ini bisa bahasa Arab! Keren!. Oleh karena kondisi pemerintahan di daerah asalnya yang kontra dengan islam itulah dia bercita-cita abis lulus mau kerja di Arab Saudi. Semoga Allah selalu menjaganya. Sesudah sholat, kami bertukar ID Wechat sambil jalan ke halte bus dianter olehnya. Sampe sekarang pun, aku masih kadang chatting sama Halimah, saudara seaqidahku.
Lokasi Xinjiang (sumber: kompas.com)
Xi’an itu ramah. Beberapa kali ada orang menyapaku dengan salam lalu nebak asalku dari Malaysia. Ada pula wanita Iran yang takjub menyapa kami karena kami pake hijab (tidak semua orang tau kalo yang kupake ini adl jilbab untuk seorang muslim). China lokal tak secuek yang diberitakan. Ada kehangatan di kota ini. Ada banyak hal kuno unik di kota ini. Ada harapan bagi pemeluk islam di kota ini. Semoga Allah selalu menjaga kota ini, kota penuh sejarah, muara dan awal jalur sutera yang legendaris. 
Xie xie Xi'an! (taken by ditha jos)


Komentar

  1. Mba,, ijin bertanya, kalau the Great Wall sebelah mana

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer