My Furthest Solo Travel (Prolog)



Tak pernah kumenyangka bisa merasakan solo travel. Tak pernah kuduga bakal merencanakan ke suatu negara seorang diri. Sekarang aku tau rasanya perjuangan solo travel, sangatlah tidak mudah, butuh pendirian kuat, butuh kemandirian, butuh kesabaran.

Aku masih ingat betul selama 1 bulan sebelum keberangkatan ke Jepang, negeri pertama solo travelku, aku gak bisa melewatkan satu hari pun tanpa perencanaan. Kalo dihitung-hitung banyak banget yang harus dipersiapkan, apalagi buat first timer kayak aku.

Wacana ke Jepang sudah bergulir sejak bulan Juli tahun ini. Tujuan utama adalah menyelesaikan tesis melalui beberapa observasi gedung di kampus Jepang. Sejak saat itu, aku selalu update harga tiket. Mulai promo Air Asia 2.9 jt tapi tidak diambil karena belum pastinya tanggal keberangkatan, lalu promo Philippine Airlines 3.5 jt pp yang juga di saat belum tepat, hingga Garuda Indonesia yang sangat hampir aku ambil karena menawarkan promo berangkat ke Tokyo dan pulang lewat Osaka. Berbulan-bulan yang seharusnya bisa fokus ke banyak hal, membuatku fokus ke tiket yang tak kunjung kuperoleh. Aku bergabung ke grup backpacker international di facebook. Nah, suatu hari di akhir bulan Oktober itulah ada kehebohan di grup itu bahwa ada tiket murah ke Tokyo yang dapat dibeli di aplikasi Tiket.com. Aku sudah tau promo itu tapi tak menyangka ke Jepang juga promo. Di hari Jumat kalender bulan atau 25 Oktober malam itulah (sesuai harapanku mau beli tiket di hari Jumat) tanpa pikir panjang dalam hitungan menit aku buka grup facebook, akhirnya tiket ada di genggaman. Saking takut tipu-tipu atau gimana aku sampe beli asuransi yang gak pernah kubeli sebelumnya yang total harga tiket adalah 3.2 jt pulang-pergi Jakarta-Narita. Alhamdulillah wa allahuakbar. Ini adalah harga terbaik (termurah untuk full service airline) selama pencarian berbulan-bulan di saat aku sudah stress-stressnya.

Stress karena banyak hal. Pertama aku harus segera lulus. Untuk bisa lulus aku harus observasi dulu di Jepang. Tapi ke Jepang mahal sekali tiketnya. Belum urus visa yang harus sejak jauh-jauh hari. Belum urusan disana tinggal dimana, kemana saja. Rencana Allah sangatlah sempurna. Kurang dari satu bulan aku merencanakan segalanya. Pertama durasi tinggal, kuputuskan tinggal 14 hari dengan pertimbangan sudah susah-susah bikin visa dan mahal. Aku putuskan membuat visa terlebih dahulu sebelum beli tiket asli. Visa Jepang memang tidak mensyaratkan harus issued ticket yang dipake, bisa bookingan. So, tahap pertama adalah urus visa di bulan Oktober sebelum dapet tiket promo. Karena pasporku bukan e-paspor aku ga bisa cuma pake visa waiver, harus bikin visa biasa. Cetak foto persis sesuai ukuran, cetak buku tabungan, minta surat keterangan dari kampus yang menyatakan aku mahasiswa, bikin itinerary, booking tiket pesawat Thai Airways (yang gak perlu dibayar), booking penginapan (yang bisa dicancel kemudian). Semuanya harus sesuai durasi, tempat tinggal, rencana perjalanan, dkk. 2 minggu kemudian pengajuan visaku diterima. Aku boleh stay maximum 15 hari. Lega satu tahap usai, berikutnya adalah tiket pesawat asli yang akhirnya aku dapetin lewat promo pake maskapai Japan Airlines (JAL).

23 November – 6 Desember, itulah tanggal stay di Jepang. Selama sebulan sejak mendapat tiket JAL itulah aku memikirkan tanggal tersebut. Prinsip cari yang paling murah memang butuh effort lebih. Singkatnya aku booking penginapan di 5 tempat berbeda. Why? Yang termurah. Weekend cenderung mahal, tapi sering pindah penginapan akan melelahkan diri. Jadilah minimal 2 malam aku stay di satu penginapan. Ada dua malam lain yang bermalam di bus malam Tokyo-Osaka dan Kyoto-Tokyo. Jangan ditanya abis itu gimana? Remuk badan tapi senang 😅. Proses cari penginapan ini berminggu-minggu gak sekali langsung booking. Aku sebagai orang yang banyak banget pertimbangan dibikin stress sendiri abis baca review dan liat harganya. Selalu ada kegiatan perbandingan antar satu penginapan dengan lainnya. Pada akhirnya aku menasehati diri bahwa yang terpenting adalah bisa stay tidur dan aman. Hingga beberapa hari sebelum berangkat urusan penginapan ini baru beres. Ada sebagian yang bayar di hostel ada yang sudah dibayar karena ada diskon. Totalnya aku tinggal di 2 hostel dengan tipe kamar dormitory semi kapsul mix gender (ini bakal kuceritakan nanti rasanya), 2 kamar dormitory khusus wanita, dan 1 kamar privat yang harganya sama kayak dormitory. Bayangin sudah ngos-ngosan dan bikin muter otak karena rata-rata check-in di Jepang baru bisa pukul 2 atau 3 sore dan check out maksimal pukul 10 atau 11 pagi. Nah jika pindah hostel inilah yang pusing, gotong-gotong barang bawaan plus mikir itinerary mau kemana selama nunggu boleh check in ini (biar efektif) karena tidak semua hostel membolehkan kita nitip tas secara gratis. Lagi-lagi manajemen itu penting banget sampai tingkat detil.

Memahami peta juga sangat penting. Setiap harinya kemana naik apa, paling tepat ya pake peta. Disesuaikan dengan budget. Riset di tiap kota yang akan dikunjungi juga memakan waktu berminggu-minggu. Sebagai muslim, jadwal satu hari harus dijadwalkan sampai level jam. Dimana akan sholat jadi pertimbangan juga akan kemana selama satu hari dan dimana bisa sholat. Alhasil di Tokyo terutama jadwal tiap harinya disesuikan dengan lokasi masjid. Untuk lebih iritnya dalam satu hari sebisa mungkin hanya menggunakan transportasi (kereta atau bis) sebanyak 2kali untuk pergi dan pulang karena mahalnya transportasi, selebihnya jalan kaki. Kenapa sih pusing-pusing begini? Ya karena saya bukan orang kaya yang bisa fleksibel sama duit, segalanya harus super irit 😄
Gimana dengan makan?. Nah makan bakal jadi pengeluaran gede juga kalo diturutin. Setelah melihat fasilitas penginapan, rata-rata menyediakan dapur umum. Apa yang kubawa? Beras! :D, mie instan, abon, bon cabe, bumbu nasgor, cereal, susu, coklat, sarden. Isi tas full sama bekal ini. rempong ya? Emang gak mau menikmati makanan sana? well aku gak makan yang aneh-aneh, pernah beli makan lokal eh ternyata gak doyan padahal mahal. Sesekali okelah aku mengagendakan untuk makanan lokal, yang kira-kira doyan seperti ramen 😁. Selebihnya makan bekal dan sangat memangkas pengeluaran sodara-sodara.

Solo travel pastinya ada kelebihan dan kekurangan. So far aku sangat puas dengan perencanaan-perencanaan ini. Memang jadi ga bisa foto diri banyak-banyak, tapi buat apa juga, foto landscape juga asik. Selain itu ga ada yang bisa saling jagain tas kalo misal ke toilet. Tas kecil adalah solusinya. Ada space tas di dalam tas, jadi tas gede kutinggalin di luar kadang, Alhamdulillah aman-aman aja (Jepang sungguh aman). Oya aku juga ada pocket khusus di dalam baju, jadi sebagian duit kusimpan disitu, melekat sama badan, misal kalo mandi smua duit termasuk paspor kumasukin situ. Kesepian gak? Enggak tuh. That’s so me. Mau keluar dari hostel jam berapa terserah, mau tidur seharian juga terserah, mau pergi kemana aja terserah, mau jalan 10km lebih juga terserah, ga ada gak enakan kalo solo travel. Di kali (sungai.red) diem aja ngeliat orang lalu lalang aja udah sangat nyenengin sambil merenungi bener gak sih aku disini. Ato bawa bekal trus dimakan di taman kayak orang lokal jadi pengalaman berharga. Jepang cocok banget buat solo travel karena rata-rata orang memang mengerjakan aktivitasnya secara individu. Kalo biasanya ada yang diandalkan untuk cari direction kali ini diri sendiri harus mengasah ketajaman spasial, ceileh. Kalo ga nemu tempat yang dituju tanya orang. Orang sana sangatlah baik kalo ditanya, bahkan bisa sampe dianterin ke tkp. Last but not least, solo travel mengujiku untuk bisa menjaga diri sendiri, mengajariku aku gak punya siapa-siapa yang menjaga kecuali Allah, memberiku pelajaran bahwa hidup itu seperti pelancong yang cuma bawa bekal secukupnya meninggalkan rumah, harta, benda kesayangan dan materi lainnya. Tidak ada yang perlu disombongkan seperti halnya ketika di dalam pesawat kita pasrah, kalopun jatuh (na’udzubillahi min dzalik) cuma diri sendiri yang dibawa.

Yeah, ini adalah prolog cerita solo travelku…😊




Komentar

Postingan Populer