Yuk ke Puncak Suroloyo dan Kebun Teh di Kulon Progo
Kata yang pertama kuucapkan
adalah “finally, i was there”. Mengukir jejakku di bumi Kulon Progo. Rumahku
terbilang gak begitu jauh dari Kulon Progo, tapi wisata di Kulon Progo memang
jarang kulakukan kecuali ke Waduk Sermo dan Nanggulan.
Sudah sejak lama aku pengen ke
Puncak Suroloyo. Udah banyak browsing internet dan banyak yang merekemendasikan
tempat itu. Kemaren kamis (sekarang ahad) dari hasil chat via WA dengan grup
teman kuliah kami memutuskan untuk pergi ke kebun teh dan puncak Suroloyo,
Kulon Progo. “langsung cus” dan “ga Cuma omdo” ahad pagi kami bertiga dengan
motor sendiri sendiri (bukan karena g mau irit bbm tapi yakin aja ga bakal kuat
nanjak kalo kami berboncengan) berpetualang ke daerah wisata Kulon Progo.
Jam 6 pagi kami berangkat dari rumahku
di Jalan Godean km 15. Lurus ke arah barat di jalan Godean hingga jembatan Kali
Progo kami menikmati perjalanan pagi itu. Masih lurus ke arah barat sadar
bensin belum terisi penuh sampe di perempatan Kenteng Nanggulan aku belok kiri.
Tak jauh dari situ ada pom bensin. Melanjutkan perjalanan, dari perempatan tadi
kami ke arah utara, atau kalo dari arah Godean belok ke kanan. Terus ikuti
jalan berkelok hingga perempatan Dekso yang merupakan perempatan pertama
setelah perempatan Kenteng Nanggulan. Dari situ belok kiri dan nikmati jalan
berkelok lagi sepanjang kurang lebih 10 km sampai menemukan plang petunjuk arah
warna hijau bertuliskan ke Suroloyo belok kanan 8 km dan ke Purworejo lurus.
Setelah plang itu kami belok kanan.
Perjalanan makin melelahkan karena
jalan yang sempit dan agak tidak semulus aspal tadi. Sepanjang 8 km siapkan
stamina ekstra : mata yang selalu awas, rem yang ampuh menahan motor dari
turunan curam, kaki tangan yang kuat untuk menaik turunkan gigi serta ngerem,
sarung tangan dan kaos kaki karena bakal gatal kalo ga pake (serius). Sepanjang
8 km kami melewati sedikit jalan berbatu yang sama sekali tidak ada aspal
kurang lebih sepanjang 500 meter. Tidak begitu jauh tapi juga cukup melelahkan
karena motor kami bukan settingan motor offroad.
Tanda sampai di Puncak Suroloyo
adalah kami sudah melewati pos retribusi yang mengatakan selamat datang di
Puncak Suroloyo. Lega, senang, horeee...gardu pandang di atas udah terlihat.
Kami memarkir motor di tempat parkir yang memang sudah disediakan berada di
dekat warung-warung makan dan ada patung tokoh punakawan (Bagong, Petruk,
Semar, Gareng). Kami foto-foto dulu di situ. Haha. Untuk menuju gardu pandang
kami harus menaiki tangga yang cukup tinggi pijakannnya (sampai 50 cm jarak
anak tangganya). Sarapan susu coklat sebelum berangkat tadi pun sudah tak
bersisa di perut.

Gambar tempat parkir
ke Puncak Suroloyo
Tangga ini cukup panjang dan cukup buat olahraga pagi :D
Sayang sekali begitu sampai di
puncak pemandangannya malu malu tertutup kabut. Kami ga bisa liat gunung-gunung
yang katanya bisa dilihat dari sini. Borobudur pun ga keliatan. Katanya juga
bisa liat waduk Sermo. Mungkin kami kurang pagi. Harusnya jam 4 berangkat
...haha..tapi ga bisa bayangin seremnya di jalan gimana kalo gelap.
Foto bisa menjadi pelipur lara
lah di gardu ini. Minta difotoin ma ibu-ibu yang juga berkunjung sama suaminya.
Setelah puas menikmati
pemandangan dari atas, kami turun lewat jalan yang berbeda. Perut dah kosong dan pengen banget makan mie
godhog ato pop mie. Sampe di deket parkiran tadi kami bertiga pesen mie godhog
pake telor. Nikmat banget rasanya kalo laper tu ya :D. Harga indomie pake telor
5000 rupiah. Gorengan 500 rupiah. Teh 1500 rupiah. Susu 2000. Krupuk rambak
500. Murah untuk di tempat wisata ya. Udah kenyang kami lanjut.
Mau gak mau kami lewat jalan yang
tadi dilewati kalo tujuannya ke kebun teh. Baiklah. Turun 8 km. Sampai plang
ijo tadi lalu belok kanan, lurus ikuti jalan sepanjang kurang lebih 7 km.
Sampai pertigaan Pasar Plono belok kanan. Dari situ jalan naik banget, sempit
masih sama tapi tidak separah kalo mau ke Suroloyo. Naik kurang lebih 3 km kita
bisa sampe kebun teh di Nglinggo. Di sana parkir di pinggir jalan berbatu. Ada
yang jaga parkir jadi ga usah takut motor ilang. Toh penduduk sana baik-baik
semuanya (serius). Biaya ke desa wisata ini (kebun teh) adalah 3000 rupiah. Kami
jalan naik ke kebun teh. Waaa...memang ga seluas di Puncak Bogor tapi kereennn
bagi kami yang Cuma ngliat sawah tiap harinya :D. Sejuk dan agak panas karena
sampe sana kami sekitar pukul setengah 11udahan.
Ini dia kebun tehnya.
Seger ya XD
Begitu turun mendung dan
hujaannn...wah wah...pulang deh terpaksa, padahal masih pengen ke air terjun.
Tak apalah. Cukup puas petualangan gadis tangguh hari ini. Haha. Jam 11.45 kami
pulang. Dan 12.50 kami sampe rumahku setelah nyasar karena lewat jalan yang
berbeda. Kalo di ukur pake meteran motor, jarak kebun teh sampe rumahku sekitar
26 km. Antara kebun teh ke Suroloyo bisa ditempuh selama 45 menit atau
sepanjang 18 km. Lebih cepat ternyata melewat perempatan Dekso ke arah timur
pas pulang daripada ke selatan. Melewati desa desa dan kecamatan Minggir.
Mungkin dari Dekso ke rumahku cuma 5 km. Lebih cepat daripada lewat Kentheng
sepanjang 8 km.
Baiklah cukup disini petualangan
hari ini. “Teruslah berjalan di bumi Allah selagi kakimu sehat menjelajah”.
Travelling, don’t think about money, yet let it go. See u next trip!!!


Aaahhhh jadi pingin kesana yaaaaa..
BalasHapusPuncak suroloyo ke kebun teh jauh ya...????
BalasHapussekitar 18 km jaraknya
Hapuspuncak suroloyo udah lama nyampe. kebuh teh nya malah terlewati.
HapusMenarik, .... good job.
BalasHapuswah seru jalan"nya mantap
BalasHapus