Kawah Ijen-Pesona Ujung Timur Pulau Jawa
1-5 Maret 2015
menjadi hari paling bahagia ku di tahun ini. Betapa tidak, impianku untuk ke
Kawah Ijen tercapai. GOAL. Ahad pagi bareng sama Fajri, Jupi dan Cindi kami berangkat ke Banyuwangi naik kereta dari sta Lempuyangan. Jam 07.20 berangkat
dan sampai stasiun Rogojampi di Banyuwangi tepat sesuai jadwal pukul 19.37.
Harga tiket kereta Sri Tanjung 50k.
Alhamdulillah punya
temen asli Banyuwangi, jadi perjalanan selama di sana aman dipandu sendiri sama
temen.
Berbekal sewa mobil
dan diantar sopir yang kebetulan saudara temenku kami berangkat ke Kawah Ijen
keesokan harinya, lebih tepatnya sore hari berangkat dari rumah temen. Tujuan
kami hanya satu waktu itu yaitu bisa ngliat bluefire yang katanya cuma ada dua
di dunia dan tentunya Kawah Ijen yang eksotis.
Jalanan menuju ke
Kawah Ijen sepi dan sangat menanjak. Sampai di gerbang pos Ijen kami dihadang
oleh petugas di sana, ditanya mobil ini diisi berapa orang dan sempet diperiksa
di dalamnya kalau kalau ada bule di dalamnya. Setelah lolos dari hadangan
petugas, kami dikasih tau kakaknya temenku kalo ketauan warga asing yang masuk
apalagi bule bakal disuruh bayar mahal dan mobil ga dibolehin naik sendiri alias harus pake jeep milik petugas itu. Kami
sih berprasangka baik ya. Dan ternyata setelah melewati gerbang masuk Ijen,
benarlah, jalannya penuh dengan tanjakan dan tikungan tajam, gelap tidak ada
penerangan, bahkan kami melewati kawasan rawan longsor yang jalannya sempit dan
kanan kiri adalah tebing. Bahkan mobil yang kami naiki sempat tidak kuat
menanjak yang mengharuskan kami harus turun mobil dan jalan menanjak ratusan
meter. Horor deh jalannya, kanan kiri hutan. Dan saya gak bisa bayangin kalo saya pake rencana semula buat naik motor...soale ngeri juga kalo tiba tiba macet ato
apa. Akhirnya sampai di pos pemberangkatan ke Kawah Ijen. Ada beberapa orang
yang sudah sampai sana. Yang kuliat warung masih tutup. Sepi sekali, maklum
bukan hari libur. Kami sampai jam 9 kalo ga salah. Istirahat sebentar di mobil
dan jalan-jalan buat ke toilet. Adeeemmm weeer. Bulan hampir purnama.
| Bulan Purnama di Pos Pendakian |
Setelah agak lama
istirahat kami dapat kabar kalo rencana naik kawah jam 12 malam bakal batal
soalnya belum diijinkan sama petugasnya. Katanya sih kadar karbondioksida di
atas lagi tinggi dan gak aman bagi para pendaki. Petugas menginformasikan kami
baru bisa naik pukul 3 pagi. It means kalo untuk naik butuh waktu 2 jam,
otomatis kita ga bisa liat bluefire, so sad. Tapi apalah daya. Alam tidak bisa
diprediksi secara tepat. Tidur dan istirahat kami perpanjang biar nanti ga
terlalu capek pas naik Ijen.
Jam 3 tepat portal
masuk Kawah Ijen dibuka. Bule-bule sudah berantrian. Perjalanan memakan waktu 2
jam. Cukup melalahkan karena saya kena hipoksia. Jalan yang kami lalui banyak
tanjakkannya, jadi sedikit-sedikit harus beristirahat. Pukul 5 kurang sedikit
kami sudah sampai kawah Ijen. Wow..amazing,,,baguuus banget. Udaranya makin
dingin. Disana kami sempat berbincang dengan turis Malaysia dan katanya kita
harus ke Kinabalu kalo pas ke Malaysia. Baiklah, aku mengamini dalam hati :)
![]() |
| Kawah Ijen pukul 05.15 |
![]() |
| di bibir kawah Ijen |
![]() |
| Alam ini adalah rejeki para penambang belarang |
Puas-puasin di kawah, walaupun tidak bisa
melihat bluefire, tapi tetep indah alam di sana. Di sebelah kanan ada bukit
seperti pegunungan Alpen, dan di kiri ada kawah Ijen. Makin ke atas udara makin
dingin, dan kami sempat terjebak badai di atas. Anginnya kenceng banget dan
kami baru berani turun bareng bule yang membawa guide orang lokal. Dari situ
kami turun, dan kembali melewati jalan yang dini hari tadi kami lewati.
Pemandangannya memang luar biasa indahnya. Kami bisa melihat Gunung Raung dari
sana dengan sabananya. Jurang-jurang pun jadi tampak indah.
| View saat turun gunung |
Perjalanan pagi itu berlanjut ke air terjun di
bawah Gunung Ijen lalu berlanjut ke Taman Nasional Baluran. Mahal yo Baluran,
perorang diitung 15ribu, mobil 10ribu. Jadi harus bayar 100ribu untuk 6 orang.
Jalan di Taman Nasional Baluran itu jelek, bergelombang parah, 20km/jam kami
jalan pake mobil. Sayang sekali, banteng yang kami harapkan muncul tidak
muncul. Cuaca juga mendung gerimis. Mentok sampai Pantai Bama juga masih masih
hujan rintik-rintik. Turun di sana, sekedar melepas lelah di pantai pasir putih
itu, lalu dilanjutkan dengan melihat bakau terbesar se Asia. Cukup tenang
pantai itu serta bersih.
![]() |
| Pantai Bama |
Pulangnya kami melewati lagi savana Bekol. Sayang
sekali banteng tidak muncul, malah monyet yang berlarian mengejar kami. Kami turun
untuk sekedar foto-foto dan menikmati lagi keindahan Gunung Baluran dari savana
itu.
![]() |
| Savana Bekol di Taman Nasional Baluran |







Komentar
Posting Komentar