Bromo Midnight - Part 3
Jam 2.30 kami baru bisa masuk ke
gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jalan berliku tapi halus. Papan
penunjuk jalan terlihat jelas. Lampu di tengah jalan juga banyak sekali
terpasang. Aman sekali buat pengendara walau kanan kiri jurang. Di suatu
persimpangan kami melihat ada yang mengendarai sepeda motor. Ternyata kata driver,
pake motor bisa tapi dari jalur Probolinggo. FYI, TamNas ini adalah milih 4
kabupaten yaitu Malang, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang. Jeep-jeep yang
boleh masuk TamNas ini adalah yang punya keanggotan khusus. Jadi tidak semua
orang yang berjeep bisa masuk sini. Misalnya saya bawa jeep dari Jogja, mau ke
Bromo ya gak boleh masuk karena saya bukan anggota. Juga yang bisa menjadi
anggota hanya yang berdomisili di 4 kabupaten di atas. Pun tidak semua dari
penduduk 4 kabupaten yang berjeep itu bisa memiliki keanggotan karena ada
pembatasan jumlah keanggotaan.
Objek pertama yang kami kunjungi
adalah Penanjakan I, tempat untuk menikmati sunrise. Sayang sekali kabut
tebal sampai matahari malu-malu untuk muncul. Tapi menurut saya tidak ada cuaca
yang buruk. Apapun kondisinya semua tetaplah lukisan indah alam. Kadang cerah
kadang berkabut itu tanda alam yang seharusnya kita syukuri. Di semacam tribun
untuk nonton sunrise didominasi oleh bule-bule. Bromo memang jadi tempat yang
banyak diminati wisatawan asing. Hebatnya bule itu ya, saya yang sungguh
kedinginan, jaket tebal aja tembus dingin menusuk, eh mereka ada yan sante cuma
pake sendal jepit celana pendek. Suhu segini bagi mereka udah biasa, bahkan
lebih dingin dari ini, saya sih berpikir begitu. Kebanyakan sih orang berduit
yang kesana kecuali saya yang ngegembel. Teman se-jeep kita aja orang
Jakarta yang naiknya pesawat dan tidurnya di hotel megah,haha.
Objek selanjutnya adalah kawah
Bromo. Kalo biasa liat iklan Bromo itu pada naik kuda, nah di sinilah
tempatnya. Butuh tracking sebentar barang 30 menit untuk sampai atas
kawah. Saya sih pilih tracking tanpa kuda, duit tipis J. Biasanya bapak-bapak
yang punya kuda nawarin 150ribu pulang pergi, tapi tips dari si driver
mereka bisa ditawar sampai 80ribu pulang pergi. Harga yang fantastis buat saya
untuk jarak segitu. Untuk anak muda pilihlah tracking. Buat apa
jauh-jauh ke Bromo kalo enggak buat olahraga dan nikmati tiap langkah kaki kita
(ngeles). Di bawah kawah itu terdapat pura untuk ibadah umat Hindu. Tidak
terbuka untuk umum. Cukup saya liat dari jauh keindahan pura itu berbalut
pemandangan rangkaian bukit-bukit.
Next kami ke Pasir
Berbisik. Nama ini diadaptasi dari film berjudul Pasir Berbisik. Tempat ini
merupakan bertemunya pasir dari dua arah karena sapuan angin. Karena bertemu
timbul suara-suara gesekan antar pasir, makanya disebut seperti pasir yang
berbisik. Itu kata si driver. Kalo siang tempat ini panas banget,
makanya pagi waktu yang tepat untuk kesini. Objek terakhir adalah padang sabana
atau yang banyak menyebutnya bukit teletubies. Saya merasa di New Zealand,
padahal belum pernah kesana, Cuma liat dari foto. Jadi itu tempat ijo banget,
kalo musim hujan banyak bunga edelweis. Bukitnya juga ijo, rumputnya juga ijo.
Selain kayak New Zealand juga kayak di film nya Denias di Papua, padahal Cuma
liat gambarnya juga :D. Sayang kami sudah lelah. Kalo itu tempat pertama yang
kami kunjungi saya bakal guling-guling disana. Cantik banget viewnya.
Inilah akhir dari trip saya
dengan Bromo adventour. Perjalanan pulang saya nikmati dalam-dalam sambil
merekam jalanan. Bromo memang indah. Tepatnya Taman Nasional
Bromo-Tengger-Semeru. Tidak ada yang tidak menarik dari Bromo, bahkan
pemandangan dari dalam jeep itu. Bersyukur saya pernah menginjakkan kaki
disini, menghirup udara dingin Bromo yang sebenarnya menghangatkan jiwa,
terlebih karena saya orang Indonesia dan Bromo ada di Indonesia saya makin bangga
dan takjub.| Pasir Berisik |
Bersambung...


Komentar
Posting Komentar